Sadar atau tidak, belakangan ini membaca berita korupsi rasanya sudah seperti membaca ramalan cuaca: Rutinitas. Ada pejabat ditangkap, kita hanya bergumam, “Lagi?”. Ada persidangan besar, kita langsung berasumsi, “Pasti vonisnya ringan”. Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dulu terasa luar biasa, kini seringkali hanya dilewati begitu saja di layar ponsel.
Dulu, korupsi disebut sebagai “Kejahatan Luar Biasa”. Namun sekarang, ia seolah menjadi “Latar Belakang” kehidupan publik kita. Seperti suara mesin pendingin ruangan—terus berdengung, terasa ada, namun tidak lagi kita perhatikan karena sudah terlalu terbiasa.
Masalahnya adalah data tidak bisa berbohong. Skor Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia yang stagnan di angka 30-an menunjukkan bahwa secara global, kita masih dianggap sebagai negara dengan masalah integritas yang serius. Di balik setiap istilah “uang rokok”, “biaya koordinasi”, atau “pelicin” yang dianggap lumrah, ada hak masyarakat yang dikorbankan. Ada kualitas jalan, sekolah, dan layanan kesehatan yang hilang.
PantauKorupsi hadir bukan untuk bersikap sok suci. Platform ini ada untuk mengingatkan kita kembali bahwa penyimpangan bukanlah sebuah nasib.
Kita boleh tetap tenang, namun jangan sampai lalai. Kita boleh tetap beraktivitas, namun pengawasan tidak boleh berhenti. Korupsi tumbuh subur justru ketika publik mulai maklum dan berkata: “Ya sudahlah, memang lingkungannya sudah seperti itu.”
Bagaimana pendapat Anda? Apakah Anda masih merasa geram saat mendengar berita OTT di PN Depok atau Bea Cukai belakangan ini? Ataukah Anda sudah berada di tahap bosan dan menganggapnya sebagai hal yang wajar?
